Materi
sejarah kebudayaan Islam biasanya berisi kisah dan peristiwa masa lalu yang
bisa dijadikan teladan untuk masa kini. Dalam SK KD SKI untuk jenjang
pendidikan dasar Islam (SD),
mata pelajaran ini diberikan kepada peserta didik di SD seperti:
1. Kehidupan masyarakat
Arab pra-Islam,
2. Kisah perjuangan Nabi
Muhammad SAW,
3. Kisah khulafaurrasyidin
(Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).
Metode Pembelajaran SKI di SD
Langkah awal yang harus diperhatikan sebelum
menentukan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam, adalah menentukan tujuan pembelajarannya terlebih dahulu. Di atas telah
dituliskan bahwa tujuan pembelajaran SKI adalah sebagai berikut:
1.Membangun kesadaran
peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran nilai-nilai dan norma-norma islam yang telah dibangun oleh Rasulullah dalam
rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban islam.
2.Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat
yang merupakan sebuah proses di masa lampau, masa kini, dan masa depan.
3. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara
benar.
4.Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peningalan
sejarah islam sebagai bukti peradaban umat islam di masa lampau.
5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari
peristiwa-peristiwa bersejarah, meneladani tokoh-tokoh berprestasi.
Maka, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran SKI
tersebut, juga dengan mempertimbangkan karakteristik Madrasah seperti yang
dijelaskan diatas, yaitu secara historis madrasah didirikan untuk
mentransmisikan nilai-nilai islam, penentuan model, pendekatan, strategi,
metode, teknik dan taktiknya pun tidak terlepas dari tujuan SKI dan
karakteristik madrasah tersebut.
Sehingga, dalam hal ini, SKI sangat bisa diajarkan dalam pendekatan
pembelajaran, baik yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) maupun
yang berpusat pada peserta didik (student-centered approaches).
Setelah metode tersebut ditentukan, dapat pula dirinci kembali menjadi
teknik atau taktik. Namun teknik dan taktik ini menjadi sangat individual,
tergantung kepada masing-masing guru. Setiap guru mempunyai gaya mengajar,
teknik mengajar dan taknik mengajarnya masing-masing. Sehingga pada bagian ini,
murni menjadi kreatifitas masing-masing guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar