Pendidikan Seni Qirat Dan Kesenian Dalam Islam
Apa itu Seni
Dalam bahasa sanskerta,
kata seni di sebut clipa sebagai kata sifat, clipa berarti atau dalam artian
berwarna, dan kata jadiannya su-clipa di lengkapi dengan bentuk-bentuk yang
indah atau di hiasi dengan indah.
Senipun memiliki tiga arti. Pertama, seni berarti keahlian untuk
membuat suatu karya yang bermutu. Kedua, seni adalah karya yang di ciptakan
dengan keahlian yang luar biasa. Ketiga, seni adalah kesanggupan akal untuk
menciptakan sesuatu yang luar biasa.
Sebelum menjelaskan apa itu seni,
orang-orang sering merasa bingung mengenai perbadaan antara seni dan budaya itu
sendiri. Budaya atau kebudayaan selalu di identikkan dengan seni atau kesenian.
Berdasarkan pendekatan deskriptif yang disampaikan oleh Taylor bahwa kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan,
seni, hukum, moral, adat istiadat, dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang
diterima manusia sebagai anggota masayarakat. Budaya dan seni memiliki
perbedaan yang mendasar sebab seni lebih ke arah hasil dari budaya itu sendiri
sedangkan dalam pengertian yang tertera budaya meliputi seni. Seni atau
kesenian adalah manifestasi budaya (rasa, karya, dan karsa) manusia yang
memenuhi syarat-syarat estetika. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang yang
berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni selalu identik dengan
keindahan yang bernilai kebenaran asal tidak berlebihan.
Seperti sabda Nabi saw mengatakan: إن الله عز وجل جميل يحب الجمال (Sesungguhnya
Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung adalah Indah dan Dia menyukai keindahan,
H.R. Ahmad dari ‘Uqbah bin Amir).
Dan juga seperti ayat di bawah ini.
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ
النَّاسُ وَالأَنْعَامُ حَتَّىَ إِذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ
وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ
نَهَاراً فَجَعَلْنَاهَا حَصِيداً كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ
الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ -٢٤-
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan
duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami Turunkan dari langit, lalu
tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada
yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna
keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti
menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam
atau siang, lalu Kami Jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami Menjelaskan
tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.”(Qs;Yunus:24)
Antropologi Seni
Manusia dan seni adalah dua hal yang tidak
biasa di pisahkan, seni di miliki oleh seluruh manusia. Kedekatan manusia dan
seni inilah yang memunculkan adanya bidang yang secara khusus mengkaji seni itu
sendiri.
Antropologi
seni adalah kajian ilmu antropologi yang mempelajari seni dan segala prilaku
berkeseniannya. Kajian antropologi seni ini muncul mengingat adanya kedekatan
antara manusia dan seni, selain karena seni juga merupakan salah satu dari
unsur budaya yang mana manusia dan budaya adalah objek utama disiplin ilmu
antropologi seni. Mengapa manusia dan seni adalah dua hal yang tidak biasa di
pisahkan karena sudah jelas seperti ayat di bawah ini.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ
عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ
الْمُسْرِفِينَ -٣١-Wahai anak cucu adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap
(memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”(Qs: Al-A’raf: 31)
Dan juga seperti sabda Rasulullah
saw.
لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ)) ،
قَالَ رَجُلٌ: «إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ
حَسَنَةً»، قَالَ: ((إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ؛ الْكِبْرُ بَطَرُ
الْحَقِّ ، وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.” Ada seseorang yang bertanya,
“Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau
menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah
menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).
Renungkanlah sabda Nabi saw, “Sesungguhnya Allah itu indah dan
menyukai keindahan” karena kalimat ini mengandung dua prinsip yang agung;
makrifat (pengetahuan) dan suluk (prilaku).
Dengan
menyampaikan seruan kepada anak adam, dapatlah kita fahami bahwa Agama islam
ini bukanlah khusus untuk suatu bangsa saja, melainkan benarlah bahwa nabi
Muhammad saw. Itu rahmad bagi seluruh alam.
Karena
dengan cara kita berpakaian yang indah itu telah menunjukkan bahwa manusia itu
sangat dekat dan berdampingan dengan seni.
Manfaat Seni
Seni adalah bagian dari kehidupan kita sendiri, oleh karena itu,
dari segi fungsi, seni merupakan media mensyukuri nikmat Allah yang telah
meganugrahi manusia dengan berbagai potensi diri maupun potensi indrawi (panca
indra). Fungsi seni yang lain adalah menghayati kebesaran Allah baik yang
terdapat di alam maupun yang terdapat pada kreasi manusia.
Muslim yang baik mengerti bahwasanya berkereasi seni pada
hakikatnya: Melaksanakan tugas ibadah dan menunaikan fungsi khalifah.
Islam telah memulai perkembangan kesenian-kesenian di antara
orang-orang islam, di buktikan dengan:
1.
Pembacaan
kitab suci Al-Qur’an sehingga menciptakan suatu cabang music baru.
2.
Pemeliharaan
naskah Al-Qur’an telah mengharuskan tulisan yang bagus dan penjilidan buku.
3.
Naskah-naskah
Al-Qur’an telah di hiasi dengan warna.
4.
Pembangunan
masjid telah mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesenian hiasan.
5.
Mimbar
dalam masjid telah di siabkan untuk nabi dengan di hiasi sedemikian rupa.
Memperhias dan memperindah diri juga bisa dalam
bentuk seseorang membeli pakaian-pakaian yang bagus sebagai bentuk menunjukkan
nikmat Allah yang telah Allah berikan. Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu
‘anhu, Nabi saw, bersabda.
6.
إِنَّ
اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang
hamba.” (HR. Tirmidzi).
Seperti firman Allah swt.
وَإِذَا قُرِئَ
الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ –٢٠٤-
Dan apabila di bacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. ”(Qs; Al-A’raf: 204)
Maka dengan adanya suatu nada pembacaan Al-Qur’an,
maka semakin banyak kaum muslimin dan muslimat yang mendengarnya dan
memperhatikannya dengan tenang sehingga mereka dapat mengambil pelajaran dari
nasehat-nasehatnya dan ambillah ketika mendengarkan itu, supaya kamu dapat
berpikir dan memperhatikannya. Seni dapat di katakana
sebagai kegiatan menyeimbangkan antara badan dan jiwa manusia. Dan islam telah
mengembangkan suatu keseluruhan yang harmonis di dalam diri manusia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar